Follow Aku yuk . . =3

Baca juga yg ini. .

Senandung di Titian Angin
Jika menulis akan membuatmu lebih baik, maka tulislah. Tulis dengan segala yang layak tertulis, dengan segala yang ingin kau tulis. Untuk dirimu sendiri..

Mengenai Saya

Foto saya
Tentang kecintaan yang sudah habis ku reguk dalam manisnya sebuah angan-angan...

Rabu, 29 Februari 2012

My Sweet Seventeen.. (25 Feb '12) Part 1

Dear Octhavia D. H.
                Kini aku sudah berusia 17 tahun. Harusnya aku sudah dengan sikap dewasa ku. Menjadi lebih baik dari usia sebelum ini. Dan aku, selalu berharap bisa menjadi seperti itu.
                “happy b’day Zah!” seharian penuh bertebar jabat tangan hingga ucap selamat dari teman-teman ku. Beberapa di antaranya berlomba untuk menjadi pengucap pertama tepat pada jam 00:00. Meskipun pada nyatanya aku belum di lahirkan pada jam tersebut. Mendengar desas-desus mereka, membuat seharian penuh ku berjejal hingga berirama keceriaan.

Tapi, “dimana kamu?” sekali lagi hati ku mencari mu, Octha. Tidak, bukan, aku sama sekali tidak mengaharapkan ucapan. Aku bukan menginginkan sebuah hadiah. Aku hanya ingin kamu ada disamping ku. Tepat saat usia ku sampai di perbatasan menjadi seorang yang bukan anak kecil lagi. Apa aku sedih? Mungkin, sedikit. Kenapa sedikit? Karena aku tau beberapa hari terakhir ini begitu banyak kesibukan yang membuat kita jarang bertemu. Bahkan sekedar untuk melihatmu melintas.
Sedikit banyaknya, aku mengerti. Banyak hal yang harus kamu kerjakan. Aku tidak sedikit pun ingin memaksamu tau ini adalah hari yang mungkin special untukku. Bagaimana pun, aku tetap tenang. Karena, aku percaya kamu. :)
Selang waktu berganti, senja pun sudah hampir pulang ke peraduan. Mungkin sekitar jam tujuh kurang, aku mendapat pesan dari mu.

“Zah! Keluar rumah! Sekarang! Temukan aku!”
Andai kamu tau, jantung ku bukan main melompat-lompat kaget. Ada apa ini? Aku bingung sendiri. Segera ku membuka pintu dan berdiri di depan pagar rumah. Kepala ku celingukkan mencari mu. Apa kamu datang ke sini? Tapi, dimana kamu? Aku bertanya-tanya dalam hati. Memperhatikan beberapa saat, tak ada siapa pun ku temukan di luar sana. Aku mengambil ponsel dan menghubungimu, Octha.
“temukan aku Zah. Temukan sesuatu” dengan singkatnya kamu berkata dan memutuskan telpon ku.
Sekali lagi aku celingukkan mencari sesuatu hingga akhirnya benar saja, di bawah naungan daun-daun pohon mangga ku lihat ada bungkusan plastic hitam. Besar sekali. Ku perhatikan isinya, ada kado. Entah, bagaimana kamu menaruh dengan aman di depan rumah ku. Dengan masih takjub dan bingung ku angkat plastic itu ke dalam rumah. 

>>Next to Part 2...

Tidak ada komentar: