Dear Octhavia D. H.
Kini
aku sudah berusia 17 tahun. Harusnya aku sudah dengan sikap dewasa ku. Menjadi
lebih baik dari usia sebelum ini. Dan aku, selalu berharap bisa menjadi seperti
itu.
“happy
b’day Zah!” seharian penuh bertebar jabat tangan hingga ucap selamat dari
teman-teman ku. Beberapa di antaranya berlomba untuk menjadi pengucap pertama
tepat pada jam 00:00. Meskipun pada nyatanya aku belum di lahirkan pada jam
tersebut. Mendengar desas-desus mereka, membuat seharian penuh ku berjejal
hingga berirama keceriaan.
Tapi, “dimana kamu?” sekali lagi
hati ku mencari mu, Octha. Tidak, bukan, aku sama sekali tidak mengaharapkan
ucapan. Aku bukan menginginkan sebuah hadiah. Aku hanya ingin kamu ada
disamping ku. Tepat saat usia ku sampai di perbatasan menjadi seorang yang
bukan anak kecil lagi. Apa aku sedih? Mungkin, sedikit. Kenapa sedikit? Karena
aku tau beberapa hari terakhir ini begitu banyak kesibukan yang membuat kita
jarang bertemu. Bahkan sekedar untuk melihatmu melintas.
Sedikit banyaknya, aku mengerti.
Banyak hal yang harus kamu kerjakan. Aku tidak sedikit pun ingin memaksamu tau
ini adalah hari yang mungkin special untukku. Bagaimana pun, aku tetap tenang.
Karena, aku percaya kamu. :)
Selang waktu berganti, senja pun
sudah hampir pulang ke peraduan. Mungkin sekitar jam tujuh kurang, aku mendapat
pesan dari mu.
“Zah! Keluar rumah! Sekarang!
Temukan aku!”
Andai kamu tau, jantung ku bukan
main melompat-lompat kaget. Ada apa ini? Aku bingung sendiri. Segera ku membuka
pintu dan berdiri di depan pagar rumah. Kepala ku celingukkan mencari mu. Apa
kamu datang ke sini? Tapi, dimana kamu? Aku bertanya-tanya dalam hati. Memperhatikan
beberapa saat, tak ada siapa pun ku temukan di luar sana. Aku mengambil ponsel
dan menghubungimu, Octha.
“temukan aku Zah. Temukan sesuatu”
dengan singkatnya kamu berkata dan memutuskan telpon ku.
Sekali lagi aku celingukkan mencari
sesuatu hingga akhirnya benar saja, di bawah naungan daun-daun pohon mangga ku
lihat ada bungkusan plastic hitam. Besar sekali. Ku perhatikan isinya, ada
kado. Entah, bagaimana kamu menaruh dengan aman di depan rumah ku. Dengan masih
takjub dan bingung ku angkat plastic itu ke dalam rumah.
>>Next to Part 2...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar